Tags

Kemarin saya sempat berfikir, ah ternyata ngurusin nikah itu tidak sampai membuat saya nangis bombay. Ealah dalah, hari ini saya pun mengalami kejadian yang membuat air mata saya turun mengalir dengan derasnya.

Sekarang saya bisa menulis kisah ini sambil tersenyum dan tertawa. Alhamdulillah mood bisa berangsur membaik. Saya sendiri merasa ajaib akan perbaikan mood yang begitu cepatnya. Padahal, sejam yang lalu saya baru saja kehilangan kendali dan marah-marah di telepon terhadap sang vendor undangan.

Begini ceritanya, sekitar jam setengah 3 sore, si aa mengabarkan via sms kalau undangan yang sedianya diambil besok pagi itu jadi mundur hingga hari Rabu. Dan dia minta agar saya yang menghubungi pihak vendornya.

Hari Rabu? Itu berarti akan menggagalkan beberapa rencana yang sudah kami susun untuk membagikan beberapa undangan terhadap rekan mama, teman kuliah aa, dan teman SMA saya. Minggu ini mama ada acara di organisasinya, dan kebetulan juga ada teman aa dan teman saya yang menikah di minggu ini. Jadi, acara tersebut bisa jadi momen yang tepat untuk menyebarkan beberapa undangan. Namun dengan kemunduran ini, maka kami pun harus menyiapkan rencana lagi untuk menyebarkan undangan tersebut.

Akhirnya, saya pun menelepon vendor tersebut bermaksud meminta kejelasan akan nasib undangan saya dan aa. Sungguh mengejutkan percakapan kami :

Saya : “Maaf Pak, saya mau menanyakan tentang undangan untuk Kaut dan Tanta..”

Vendor : “LOH KOK ANDA NANYA LAGI ! TADI KAN SAYA SUDAH JELASKAN SAMA MASNYA. UNDANGANNYA JADI HARI RABU. FILMNYA BARU JADI HARI INI DAN BARU NAIK CETAK BESOK!”

Saya : ” Kok baru bisa naik cetak besok? Kan Bapak menjanjikan pada kami undangan akan selesai hari Sabtu ini..”

Vendor : “SAYA NGGA BISA DIDESAK BEGITU. KALAU MAU TETAP CETAK YA JADINYA HARI RABU, KALAU NGGA MAU YA SUDAH, BIAR NGGA USAH DICETAK SEKALIAN, MUMPUNG BELUM TERLAMBAT!!!

Kenapa itu hurufnya saya tulis dengan capslock? Itu untuk mengekspresikan suara sang pemilik vendor yang menggelegar. Saya kebingungan setengah hidup. Kok malah galakan dianya yaaa? Yang salah siapa? Hellooooo… Saya merasa diremehkan haknya sebagai pelanggan.

Dan bodohnya lagi, saya yang sensitif ini paling tidak bisa menerima komunikasi dalam bentuk teriakan seperti itu. Alhasil, jadilah saya menangis sesenggukan.

Kemudian suara di seberang sana, berganti jadi lembut dan manusiawi. Ternyata sang anak buah mengambil alih.

Anak Buah : Mba, maafkan bos saya ya, dia memang suaranya keras begitu, tapi sebenarnya baik kok..”

Saya : “Terus jadinya gimana mas?

Anak Buah : Kami minta maaf ya mba tidak bisa memenuhi janji. Karena ternyata minggu-minggu kemarin banyak sekali kendala yang kami hadapi. Ini saja undangan untuk tanggal 4 November masih dalam proses. Jadi memang berurut gitu mba. Tapi kali ini kami memastikan akan jadi hari Rabu sore..”

Saya(sambil masih sesenggukan): ” Ya sudah deh mas..hari Rabu sore ya..”

Anak Buah : “Sekali lagi kami minta maaf ya..”

Mau bagaimana lagi? Kami butuh undangan tersebut. Mencari percetakan lainnya belum tentu bisa menjanjikan waktu cetak yang lebih cepat. Kami terlanjur percaya terhadap vendor tersebut karena banyaknya rekomendasi. Kami juga tidak melakukan perjanjian hitam di atas putih mengenai masalah ini. Karena si vendor juga tidak ada mekanisme seperti itu. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran buat para calon pengantin untuk lebih berhati-hati untuk masalah seperti ini.

I felt so bad karena sudah kehilangan kontrol. Merasa lose. Harusnya saya bisa menyikapinya dengan lebih bijak. Tidak perlu teriak-teriak sampai nangis sesenggukan. Kan tidak anggun jadinya, hehe.. Mungkin inilah salah satu bentuk ujian kesabaran bagi calon pengantin yang masih perlu saya latih.

Sekian curhat saya hari ini, mohon doanya ya..Semoga undangan kami memang benar jadi hari Rabu depan. Amiiiin.. :)

Regards,

PS : Ternyata menulis itu benar-benar membuat hati lega..

Advertisement